Menjaga pandangan/gadhul bashar dalam Islam

Di posting oleh Heri Irawan pada 01:47 AM, 26-Aug-10

Di: Islam

Gadhul Bashar dalam Islam
Assalamualaikum wr,wb
Alangkah terperanjatnya saya
saat mendengar sebuah
tausyiah tentang hubungan
akhwat ikhwat dalam islam,
entah kenapa begitu
mendengar tausyiah tersebut
hati saya merasa tersentak.
Ternyata selama ini saya
melakukan kesalahan yang
sangat sering saya lakukan.
Gadhul bashar yang dalam
bahasa indonesia diartikan
sebagai menjaga pandangan,
menjaga pandangan dalam
islam sangatlah dianjurkan oleh
Baginda Nabi Muhammad SAW,
dalam sebuah ayat Al quran
dijelaskan, yang artinya :
“Dan janganlah kamu
mendekati zina,
sesungguhnya zina itu
adalah suatu perbuatan
yang keji dan suatu jalan
yang buruk. ” (QS. Al Isra:32)
.
Terbersit dalam benak di hati,
“ terus apa hubungannya zina
dengan menjaga pandangan??”
gumam dalam hati. Dalam Hadist
yang di riwayatkan Oleh Abu
Huaraira r.a dijelaskan:
Dari Abu Hurairah r.a.
bahwa Rasulullah saw.
telah bersabda yang
artinya, “Kedua mata itu
bisa melakukan zina, kedua
tangan itu (bisa) melakukan
zina, kedua kaki itu (bisa)
melakukan zina. Dan
kesemuanya itu akan
dibenarkan atau diingkari
oleh alat kelamin.” (Hadis
sahih diriwayatkan oleh
Imam Bukhari dan Imam
Muslim dari Ibn Abbas dan
Abu Hurairah).
“Tercatat atas anak Adam
nasibnya dari perzinaan
dan dia pasti
mengalaminya. Kedua mata
zinanya melihat, kedua
telinga zinanya mendengar,
lidah zinanya bicara, tangan
zinanya memaksa
(memegang dengan keras),
kaki zinanya melangkah
(berjalan) dan hati yang
berhazrat dan berharap.
Semua itu dibenarkan
(direalisasi) oleh kelamin
atau digagalkannya. ” (HR
Bukhari).
Hadist tersebut menjelaskan
sedikit banyak tentang bahaya
zina, dan hal tersebut dapat
berawal dari pandangan seperti
yang jelaskan dalam sebuah
ayat alquran di bawah ini :
“Katakanlah kepada laki-laki
yang beriman:”Hendaklah
mereka menahan
pandangannya, dan
memelihara kemaluannya,
yang demikian itu adalah
lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang
mereka perbuat ”. (QS.
24:30)
Dan diperkuat dalam hadist
shahih berikut :
“Wahai Ali, janganlah
pandangan pertama kau
ikuti dengan pandangan
berikutnya. Untukmu
pandangan pertama, tetapi
bukan untuk
berikutnya. ” (HR. Abu
Dawud, dishahihkan oleh
Al-Hakim sesuai dengan
syarat Muslim)
Subhanallah, betapa malunya
saya mendengar hadist
tersebut. Astagfirullah, sekali
lagi hati saya beristighfar. Jadi
selama ini saya melakukan hal
yang mendekati zina, jika saya
tidak menjaga pandangan. Ada
beberapa perdebatan mengenai
hal ini, mengapa hanya dengan
pandangan kita dapat
melakukan hal yang mendekati
zina? Apakah kita tidak boleh
menatap lawan jenis kita saat
berbicara? Karena pengertian
zina dalam masyarakat
mayoritas kita berarti
melakukan hubungan suami
istri tanpa adanya tali
pernikahan yang halal.
Sehingga, menatap lawan jenis
sah- sah saja.
Namun, lepas dari perdebatan
tersebut, saya mengambil
hikmah yang merubah
pandangan saya terhadap
hubungan akhwat ikhwat
selama ini. Saya menganggap
menjaga pandangan lebih baik
dari pada harus menerima
resiko laknat Allah azza wajalla.
Jadi teringat seorang teman
saya berkata ” Kenapa harus
segitunya sih, masa kalau
berbicara dengan lawan jenis
mesti menunduk?? ntar dikira
sombong lagi …. yang
pentingkan hatinya… iya kan
hir? ” kata salah satu teman
saya. Kemudian saya berfikir
sejenak, dan sempat berfikir
yang sama terhadap perkataan
teman saya tersebut. Namu
segera saya tepis fikiran itu,
kemudian tersenyum dan
berkata kepada teman saya
“ mungkin betul perkataan mu,
namun bagi aku yang hanya
menempel sedikit iman ini,
gadhul qalbu atau menjaga hati
tidak bisa sepenuhnya
digunakan, jika tidak di barengi
dengn gadhul bashar ” ucap
saya.
Memang sangat sulit
menerapkan hal ini, terlebih
bagi sesorang yang tinggal di
kota jakarta, yang notabene
merupakan kota metropolis. Dan
kebanyakan perempuan
sekarang tidak malu untuk
membuka aurat nya di depan
umum. Namun terlepas dari
semua itu, semua kembali
kepada diri sendiri. Karena pada
hakikatnya kita harus
menentukan jalan kita sendiri,
“ jika bukan sekarang, kapan
lagi!!!” gumam dalam hati.
Tulisan ini dibuat bukan untuk
mengajari atau mendikte
seseorang. Karena saya juga
hanya seorang yang mencoba
berubah ke jalan yang lebih
baik. Karena kesalahan
sepenuhnya milik saya, dan
kesempurnaan milik Allah SWT.
wassalamualaikum wr,wb

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar